Glenn Historical
Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, lahir dan tumbuh di Jakarta pada 30 September 1975. Tumbuh di lingkungan keluarga yang erat akan irama dan nada-nada, membuat seorang Glenn Fredly mencintai lantunan musik sejak berusia 4 tahun, dan mulai menguji dirinya dengan mengikuti beberapa ajang lomba. Bermula dari tahun 1984, yaitu ajang lomba menyanyi Vini Vidi Vici yang diadakan oleh Yayasan Musik Indonesia, hingga Cipta Pesona Bintang RCTI tahun 1992. Bergabung dengan Funk Section pada saat masih duduk di bangku SMA yang membuat masyarakat mulai mengenal suara khasnya melalui lagu “Pantai Cinta” dan “Terpesona”. Selepas dari Funk Section, Glenn Fredly memutuskan untuk bersolo karir dengan membawa genre R&B Soul. Lagu “Kau” dan “Cukup Sudah” mencuri perhatian penikmat musik Indonesia kala itu. Salah satu momen yang tak dapat dilupakan adalah saat peluncuran album “Selamat Pagi Dunia” yang berhasil menghasilkan lagu hits “Januari” dan “Sekali Ini Saja”.
Glenn Fredly mulai memasuki industri perfilman dengan mengisi soundtrack film “Cinta Silver” (2005) dan “Filosofi Kopi” (2015), serta memproduseri beberapa film Indonesia seperti “Cahaya Dari Timur”, “Surat Dari Praha”, dan “Tanda Tanya”.
Glenn Fredly memiliki jiwa yang sangat peduli terhadap lingkungan dan pelestarian seni serta budaya Indonesia terkhusus kampung halamannya, yaitu Kota Ambon, Maluku. Glenn melakukan begitu sering melakukan kolaborasi dengan musisi-musisi terbaik Indonesia untuk menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan dan bangsa.
Beberapa karya serta kegiatan Glenn Fredly yang ditunjukkan bagi kemanusiaan dan bangsa:
- Lagu “Kita Untuk Mereka” diciptakan untuk korban tsunami di Aceh.
- Terlibat dalam konser “Soul for Indonesian Earth” sebagai bentuk penghargaan terhadap bumi.
- Konser “Cinta Beta” yang merupakan aksi pelestarian seni dan budaya Indonesia Timur.
Rasa cintanya terhadap musik, membangun keyakinannya terhadap masa depan musik Indonesia. Semasa hidupnya, Glenn Fredly berhasil mendirikan perusahaan yang diberi nama GF & Company, perusahaan ini meliputi:
- Musik Bagus Indonesia: label musik
- Bumi Entertainment: manajemen
- Ruma Beta: yayasan untuk Indonesia Timur
- Mahakarya Bagus Indonesia: rumah bagi para pencipta lagu
Hingga kini, walaupun jiwa dan raganya telah tiada, namun karya-karyanya yang begitu indah akan selalu dikenang sepanjang masa.
Perjalanan Bermusiknya Dimulai (1995)
Kembali melintasi tahun 1995, awal mula Glenn Fredly memulai karirnya di industri musik Tanah Air. Satu tahun setelah dirinya lulus SMA (1994), Glenn bergabung menjadi vokalis dalam sebuah band ternama, Funk Section. Setelah tiga tahun berjalan, Glenn memutuskan untuk menjadi solois. Mengusung genre R&B Soul, dengan keberanian yang tinggi Glenn Fredly memulai membuat karya-karya indah, dimana genre tersebut masih minim peminat pada tahun tersebut.
Dengan segenap daya jelajah yang penuh akan simpang jalan, prinsip dan tekad dalam hidupnya membawa raga pada sebuah petualangan arteri yang penuh akan bebatuan.
Sayapnya Mulai Melebar Lewat Album Perdana (1998)
Suara yang khas dari diri seorang Glenn Fredly, membawa dirinya pada sebuah album perdana yang berjudul “Glenn” (1998). Bernaung dibawah label Sony Music Indonesia dengan Aminoto Kosin sebagai produser pertamanya.
Album yang diciptakannya ini membawa namanya kian dikenal oleh masyarakat luas. Lagu “Cukup Sudah” dan “Kau” yang menjadi hits dalam album perdananya ini sukses membawa namanya mengudara. Tak hanya di Indonesia, beberapa negara di Asia mulai menyadari kedatangan Glenn Fredly sebagai musisi Indonesia, sebagian di antaranya adalah Malaysia dan Singapura.
Pada tahun ini, Glenn Fredly menghadapi sebuah dilema yang cukup menggetarkan hatinya. Meski album “Glenn” cukup dikenal, namun dari segi penjualan dan popularitas alih-alih masih belum memenuhi standar ‘ekspektasi’ dari pihak label. Bagai batu penarung belantara, kondisi ini memicu sekat antara Glenn Fredly dan pihak label dalam berkarya.
Pada masa ini, Aminoto Kosin selaku produser tetap memberikan ruang lingkup yang bebas untuk Glenn Fredly menciptakan karya-karyanya.
“Perjalanan baru dimulai, menyerah bukan pilihan, Glenn!” – Aminoto Kosin (1998).
Lahirnya Album Kedua dan Berbagai Penghargaan Menghiasi Perjalannya (2000-2001)
Glenn Fredly meluncurkan album keduanya yang diberi judul “Kembali” (2000). Pada masa ini, keberadaan Glenn mulai terlukis dalam hati dan angan masyarakat Tanah Air. “Dewa Cinta” merupakan julukan yang Glenn dapatkan setelah merilis album ini. Lagu “Salam Bagi Sahabat” dan “Kasih Putih” menjadi hits hingga saat ini, kedua lagu ini pun menjadi nyawa dalam album kedua ini.
Pada masa ini, keberaniannya membuahkan hasil yang indah. Glenn meraih penghargaan dari Malaysia dengan kategori Album Terbaik Indonesia serta dari Singapura dengan kategori Lagu Terbaik Pilihan Pendengar. Tidak hanya itu setahun setelahnya, Glenn Fredly berhasil meraih penghargaan dengan kategori Lagu dan Penyanyi Pria Terbaik bergenre R&B Soul serta Karya Produksi Urban Terbaik oleh AMI Awards (2001).
Glenn Fredly membuktikan dengan karya-karyanya di atas keraguan pihak label, pada akhirnya buah yang manis nan segar ia dapati melalui konsistensi.
“Sisi kemanusiaan selalu memiliki kekurangan dan kelemahan, terlepas dari kelebihan yang tersua dalam diri masing-masing. Ajari saya setiap hari, karena saya tempatnya kekurangan dan kelemahan.” – Glenn Fredly.
Semakin Berkembang Lewat Karya dan Namanya Perlahan Dikenal Oleh Masyarakat (2003-2004)
Glenn terus berjalan, meraih, dan menyusuri dunia jauh lebih luas lagi. Mimpinya mulai tercapai satu demi satu, hingga perjumpaan pada album ketiga bertajuk “Selamat Pagi, Dunia!” (2003), dengan lagu “Januari” melambung tinggi, sehingga menjadi hits hingga pelosok negeri. Melalui album ini, banyak musisi yang mulai berkaca padanya, sehingga namanya kian menjadi permata.
Walaupun pihak label masih menaruh keraguan, Glenn Fredly dengan raga dan ketulusan hatinya menutup semua itu dengan karya-karyanya yang manis. Keberhasilan album “Selamat Pagi, Dunia!”, membuat pihak label merilis album Repackage di tahun 2004 dengan mengusung konsep unplugged live performance. Di tahun ini, Glenn Fredly berhasil memenangkan penghargaan AMI Awards dalam kategori Lagu Pop Terbaik.
Dari tahun ke tahun, sisi kemanusiaan Glenn Fredly kian menginspirasi, ia tak tahan melihat sanak saudara se-Tanah Air mengalami duka. Tahun ini, Aceh tengah diterpa Tsunami besar yang meratakan hampir seluruhnya, dari situlah seketika hati Glenn Fredly tergerak. Ia menjadikan musik sebagai wadah untuk menggerakkan hati manusia saling bahu membahu. Glenn Fredly bersama dengan puluhan musisi serentak merilis single “Kita Untuk Mereka”. Dari sinilah, Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, dikenal sebagai sang insan lingkungan dengan delegasi kemanusiaan.
Semangatnya Membuahkan Hasil Yang Sangat Memuaskan (2005-2012)
Glenn Fredly mulai memasuki ranah perfilman Indonesia, ia mengawalinya dengan mengisi soundtrack pada film ‘Cinta Silver’ (2005) yang juga menjadi album keempatnya dengan hits “Akhir Cerita Cinta”. Mulai menekuni bidang perfilman Indonesia, Glenn Fredly meningkat dari sisi musikalitas, mengkorelasikan segenap karyanya seraya memadu-padankan dengan virtual dalam film kian menambah kepekaan dirinya dalam bermusik. Pada tahun ini, ia kembali berhasil meraih penghargaan dari AMI Awards 2005 dengan kategori Best Pop Male Solo Artist.
Satu tahun setelahnya, Glenn Fredly kembali merilis album yang diberi judul “Aku & Wanita” (2006). Album ini didedikasikan sebagai penghormatan kepada musisi-musisi terdahulu, dengan hits “Tega” dan “Aku Cinta Padamu”. Pada saat ini, ia kembali mendapatkan penghargaan dari AMI Awards dalam kategori Best Mix Engineer, For Best Foreign Language Song untuk lagu “When I Fall In Love”, dan For Jazz Production Works untuk lagu “Tega”.
Masih di tahun 2006, Glenn Fredly kembali merilis album eksklusif untuk Natal yang berjudul “Terang”. Berisikan 10 lagu yang dinyanyikan oleh Glenn Fredly juga kolaborasi dengan beberapa musisi, seperti Pasto, Edo Kondologit, RED, dan Rio Febrian.
Di tahun setelahnya, Glenn Fredly kembali merilis album berjudul “Happy Sunday” (2007). Album ini diusung sebagai sarana memancarkan semangat baru dalam memandang kehidupan dunia melalui bermusik. Seiring perjalanannya, Glenn berorasi dengan karyanya dalam konser amal South for Indonesian Earth, sebagai apresiasi dan penghargaan untuk bumi.
Tahun 2008, Glenn Fredly kembali mewarnai industri musik Indonesia dengan merilis album “Private Collection”, dimana lagu “Terserah” menjadi populer kala itu, terlebih lagu “Hikayat Cintaku (feat. Dewi Persik)” yang selalu sukses membuat audience bersenandung nan berdansa serentak.
Tahun 2010, Glenn Fredly merilis album berjudul “Lovevolution”. Berisikan 14 lagu, “Lovevolution” dan “Tersimpan” menjadi hits dalam album ke delapannya ini, film ‘Rectoverso’ (2013) dengan single “Malaikat Juga Tahu”, film ‘Cahaya Dari Timur Beta Maluku’ (2014) dengan single “Tinggikan”, film ‘Filosofi Kopi’ (2015) dengan single “Filosofi dan Logika”, serta ‘Twivortiare’ (2019) dengan single “Kembali Ke Awal”.
Perjalanan karir Glenn Fredly kian energik, kini ia tengah berada di atas bukit dengan membawa mimpi yang lebih tinggi. Bersama dengan Sandhy Sondoro dan Tompi, mereka membentuk grup Trio Lestari di tahun 2011 dengan debut album berjudul “Wangi”
Tidak ada alasan khusus kenapa namanya Wangi, karena para penggemar kami umumnya wangi. – Tompi
Pada akhir tahun yang sama, Glenn Fredly juga berkolaborasi dengan Ras Muhamad dalam pembuatan lagu yang berjudul “Tanah Perjanjian”. Single ini tercipta berlandaskan dari konflik yang terjadi di Papua. Mereka berdendang menyuarakan hak-hak sanak saudara di Papua melalui lagu ini. Kecewa serta pilu dirasakannya, lantaran minimnya tingkat kepedulian masyarakat terhadap konflik yang tengah mengeruh pada ujung timur ini.
Lagu ini saya ciptakan bersama sahabat saya, Ras Muhamad. Tentang pesan damai, khususnya untuk sanak saudara kita di Papua. Negara ini merupakan latar belakang budaya, agama, ras, suku yang bisa merasakan kebebasan. Jadi jangan bedakan Papua, jangan bedakan warna kulit, stop rasism di Negara ini teman teman! – Glenn Fredly
Jelang akhir tahun setelahnya, Glenn Fredly bersama dengan The Bakuucakar merilis sebuah album berjudul “Luka, Cinta & Merdeka” (2012) yang berisikan total 12 lagu senyawa antara luka dan cinta, sedemikian lirik pada lagu-lagu di album ini yang bermain di antara bait-bait prosa dan metafora.
Pada masa ini, Glenn Fredly menyuguhkan sebuah konser yang berjudul “Cinta Beta” dalam rangka merayakan perjalanan 17 tahun karirnya dalam berkarya untuk Indonesia. Konser ini didedikasikan darinya untuk kampung halaman, Timur Indonesia. Glenn mengajak seluruh penonton yang tercatat kurang lebih 5000 orang pada konser ini untuk menaruh perhatian serius terhadap konflik serta persoalan di Timur Indonesia. Istora Senayan menjadi saksi gema sorak-sorai untuk kampung halamannya.
Dari sejumlah prestasi serta apresiasi yang diterimanya, tak merubah sikapnya yang senantiasa menunduk berjalan di atas muka bumi. Tak ada perbedaan dalam sudut pandanganya, ia menjunjung tinggi toleransi antar umat manusia. Tak mengenal batas usia, ras, agama, golongan, adat istiadat, asal-muasal, Glenn memiliki kekuatan yang dapat mendobrak sekat-sekat yang mampu membatasi umat manusia dalam toleransi.
Amarahnya adalah pelanggaran toleransi, suaranya adalah hak-hak manusia yang layak terpenuhi, serta rangkulannya adalah bantuan di atas kesulitan dan persoalan bumi. Begitu banyak asas dan kebaikan yang dibangun semasa hidupnya, agar generasi penerus tidak akan cukup untuk mengucapkan kata terima kasih.
Cinta Terhadap Musik, Menggerakan Hatinya Untuk Menyebarkan Perjuangannya Pada Musisi Lain (2014)
Tahun 2014, Glenn Fredly telah memilih untuk lepas dari label dan berdikari menyuarakan karya-karyanya. Langkah itu dimulai dengan membentuk sebuah wadah untuk mengusung munculnya musisi-musisi baru dengan konsep endorse yang kita kenal sampai hari ini dengan nama Musik Bagus Indonesia. Melalui Musik Bagus Indonesia, Glenn Fredly membentuk sejumlah musisi-musisi baru yakni Yura Yunita, Gilbert Pohan, Bakhes, dan Tiara. Sasaran musisi disini adalah pencipta dan penyanyi, sehingga mereka dapat melahirkan karyanya sendiri. Didorong dengan single “Cinta dan Rahasia”, Musik Bagus memiliki misi untuk membuat karya dengan lirik berbahasa daerah asal musisi. Maka dari itu, Yura Yunita memiliki lagu “Kataji” dengan bahasa Sunda serta Gilbert Pohan dengan lagu berjudul “Martumba” dengan bahasa Batak.
Konser Sejarah Musik Indonesia, “Menanti Arah” (2015)
Mendekati akhir tahun 2015, tepatnya 17 Oktober 2015, Glenn Fredly mencatat sejarah hidupnya juga untuk musik Indonesia melalui Konser Menanti Arah. Diusung sebagai salah satu konser terbaik di tahun 2015, Glenn Fredly mengadakan tour konser 20 tahun dirinya dalam berkarya, senada dengan angka berkaryanya di industri musik, selebrasi di 20 kota yang diakhiri dengan konser besar di Istora Senayan, Jakarta sukses terlaksana.
Glenn Fredly dalam konser ini kembali pada sebuah perjalanan era 90’an, ruang waktu yang membesarkan namanya. Funk Section turut berpartisipasi dalam konsernya kala itu, dengan 7000 orang yang hadir menjadi saksi kisah tumbuh kembang Glenn Fredly.
Sebuah Apresiasi Untuk Musisi Tanah Air (2016-2019)
Kepeduliannya yang tinggi serta kecintaannya terhadap musik tak hanya membentuk pesona mahir berkarya. Namun, ia memiliki rencana masa depan yang jauh lebih mulia untuk keberlangsungan musik Indonesia. Meski namanya telah melambung tinggi, Glenn tak pernah berhenti untuk belajar, banyak melihat dan berkaca, serta menjadi pendengar yang baik bagi setiap pencapaian yang diraihnya. Maka dari itu, Glenn Fredly membentuk sebuah program yang diberi nama “Tanda Mata”. Dengan sedemikian rupa benih mimpi yang ia tanamkan dengan satu tujuan, yakni mensejahterakan karya-karya musisi Tanah Air.
Konser Tanda Mata sudah berjalan dari tahun ke tahun. Dalam perjalanannya, konser ini mengusung tema mempersembahkan apresiasi dan penghormatan terhadap musisi-musisi Tanah Air. Dengan ide kreatif yang begitu tinggi, konser ini tetap menjadi salah satu bagian karya Glenn Fredly yang paling dinantikan oleh masyarakat pecinta musik Tanah Air. Konser ini selalu diselenggarakan setiap tanggal 30 September bertepatan dengan ulang tahun Glenn Fredly, dimana selebrasinya merupakan trophy untuk musisi Indonesia.
Konser ini perdana dipersembahkan oleh Glenn Fredly untuk Ruth Sahanaya dengan judul “Tanda Mata Glenn Fredly Untuk Ruth Sahanaya” (2016). Ruth Sahanaya menjadi sosok yang sangat dikagumi Glenn Fredly sejak belia. Konser ini dilangsungkan di Balai Sarbini, menjadi tanda pesan regenerasi dan kepedulian Glenn terhadap industri musik Indonesia.
Perjalanan musik tidak akan lepas dari penciptanya, Tanda Mata Glenn Fredly Untuk Ruth Sahanaya semoga menjadi budaya baru dalam industri kita. – Glenn Fredly.
Setelah Ruth Sahanaya, Glenn Fredly mengapresiasi karya-karya dari band legendaris Indonesia, yaitu SLANK. “Tanda Mata Glenn Fredly Untuk SLANK” (2017) merupakan kejutan besar untuk para personil SLANK sendiri, pasalnya seluruh lagu ciptaan SLANK yang dikenal oleh masyarakat Indonesia dengan ciri khas gahar, telah diaransemen ulang oleh Glenn Fredly dengan ciri khasnya, yaitu pop, soulful, ballad, bahkan reggae. Begitu banyak musisi yang ikut meramaikan konser #TNDMT kala itu, sebagai bentuk apresiasi beriringan dengan selebrasi menjadi sejarah bagi SLANK.
SLANK adalah penanda zaman. Mereka adalah satu bagian yang membangun demokrasi, mereka tidak hanya berkarya dalam dunia hiburan. Malam ini apresiasi penuh untuknya, SLANK akan melihat karyanya dalam interpretasi saya. – Glenn Fredly.
Tahun 2018, Glenn Fredly kembali memberikan penghormatan kepada salah satu musisi yang sangat berjasa dalam perjalanan karirnya, yaitu Yovie Widianto. “Tanda Mata Glenn Fredly Untuk Yovie Widianto” disuguhkan spesial untuk sahabatnya dengan menghadirkan musisi-musisi baru dan sejumlah musisi senior, sebuah trophy ia persembahkan untuk Yovie Widianto malam itu. Berbagai kejutan ada setiap detiknya, sehingga menjadi konser termanis pada era ini. Konser ini dihadiri oleh ribuan penonton dengan sejumlah hasil perolehan dari penjualan tiketnya ditujukan bagi korban gempa di Palu dan sekitarnya.
Regenerasi adalah energi besar untuk menstimulasi karya-karya baru. Yovie memberikan ruang besar bagi musisi baru. Salah satu penyanyi yang diberikan kesempatan itu adalah saya. Saya mendapat kesempatan besar bisa berkolaborasi bersama Yovie. Dari awal karir saya, saya diberi kesempatan untuk menulis lirik lagu untuk Kasih Putih. – Glenn Fredly.
KoesPlus Bersaudara menjadi tujuan Glenn Fredly untuk diberikan apresiasi. Tahun 2019, Tanda Mata Glenn Fredly Untuk KoesPlus Bersaudara berhasil diadakan. Balai Sarbini menjadi saksi akan konser ini berlangsung, pasalnya agenda yang secara tak langsung mencatatkan sejarahnya beriringan dengan demonstrasi kerusuhan massa dalam rangka menolak pengesahan RKUHP. Walaupun beberapa musisi yang seharusnya tampil tak dapat hadir karena keadaan yang cukup teruk, dengan tangkas dan tegas Glenn Fredly tetap menyapa para pecinta musik yang masih sempat hadir pada malam itu dengan menyanyikan tiga lagu KoesPlus Bersaudara, yaitu “Nusantara”, “Dunia”, dan “Mari-Mari”.
Selamat malam Balai Sarbini. Entah apa yang terjadi di luar sana, berkesenian tetap harus berjalan! Karena seni harus menjadi inspirasi untuk bangsa ini. – Glenn Fredly.
Glenn Fredly mewarnai konser malam itu di tengah kericuhan yang kian marak terjadi dengan menyuguhkan lagu-lagu KoesPlus Bersaudara dengan versinya. Glenn Fredly memberikan trophy kepada Yok Koeswoyo, penghargaan yang membanggakan serta mengenang Yon Koeswoyo yang baru saja pulang pada tahun 2018.
Konser Tanda Mata tahun ini, menjadi pengingat yang begitu bernilai dan bermakna akan sikap kemanusiaan. Tutur terima kasih tak luput diucapkan olehnya, baik mereka yang terhalang menuju lokasi maupun mereka yang maupun mereka yang berhasil berjuang untuk sampai.
Pada tahun ini, Maluku tanah kelahirannya tengah dilanda bencana gempa, serta Riau dengan kobaran asapnya. Solidaritas yang erat antar umat manusia, Glenn Fredly berinisiatif untuk sumbangsih seluruh perolehan dari konser Tanda Mata Glenn Fredly Untuk KoesPlus Bersaudara kepada sanak saudara korban bencana Maluku dan Riau.
Album Terakhir yang Membawa Pesan Bagi Masa Depan (2019-2020)
Setelah disibukkan dengan sedemikian kegiatan, menyebarluaskan karya-karyanya ke seluruh Indonesia, serta mengedukasi masyarakat dengan nilai kemanusiaan melalui seni bermusik, tahun ini menjadi titik balik Glenn Fredly dalam berkarya, ia kembali menciptakan lagu-lagunya.
Album Romansa Ke Masa Depan vol.1 menjadi awal mula perjalanan barunya setelah kurang lebih 9 tahun vakum dalam mengeluarkan karya album. Di tahun ini, Glenn Fredly juga mengubah logo branding dirinya mengikuti trend yang lebih maju.
Dibuka dengan single “Orang Biasa”, Glenn memadupadankan dengan lintas film, membentuk movie clip untuk pertama kalinya serta membuka peluang untuk berbaur dalam generasi muda. Seluruh tindakan yang dilakukannya, membuahkan hasil manis. Lagu “Kembali Ke Awal” berkolaborasi dengan Ifa Fachir menjadi soundtrack dari film ‘Twivortiare’ dan berhasil memenangkan Piala Maya (2020). Disambung dengan salah satu lagu hits dalam album ini yang diberi judul “Selesai”, dengan Andi Rianto sebagai Produser dan Arranger. Akhirnya, Glenn merilis seluruh lagunya dalam album Romansa Ke Masa Depan vol.1 pada 14 November 2019.
Pada masa ini, Glenn Fredly semakin aktif untuk memperkenalkan label miliknya, Musik Bagus Indonesia serta yayasan yang juga diusung olehnya, Ruma Beta Foundation. Program demi program kembali dijalankannya, guna memulihkan kerinduan masyarakat Indonesia terhadap sosoknya.
Ruma Beta Foundation didirikan dengan sejumlah tujuan besar, yakni berfokus pada pendidikan dan kepedulian terhadap isu sosial, pemberdayaan ekonomi, dan masalah lingkungan yang kerap terjadi. Yayasan ini berdiri dan mendikasikan perannya untuk mendedikasikan perannya untuk meningkatkan kesejahteraan Indonesia melalui kekuatan pendidikan, demi meningkatkan kualitas pemberadaban di masa yang akan datang.
Glenn Fredly tak hanya berkarya seorang diri, lagu “Adu Rayu” menjadi hits dan masuk ke dalam rangkaian lagu terbaik Indonesia merupakan kolaborasi dengan Yovie Widianto dan Tulus. Lagu ini berhasil meraih lima penghargaan AMI Awards 2019 dengan kategori Produksi Terbaik, Penata Musik Pop Terbaik, Karya Produksi Kolaborasi Terbaik, Produser Rekaman Terbaik, dan Tim Produksi Suara Terbaik. Dengan mengharmonisasikan lagu “Adu Rayu” ke dalam ranah film, official music video “Adu Rayu” bercerita tentang kisah cinta segitiga yang diperankan oleh Chicco Jerikho, Velove Vexia, dan Nicholas Saputra. MV ini berhasil menuai banyak apresiasi, bahkan Glenn Fredly memiliki rencana untuk membuat film “Adu Rayu”.
Di tahun yang sama, Institut Musik Jalanan (IMJ) kian meningkat kualitasnya dalam mengapresiasi musisi jalanan. Glenn Fredly dan Ridho Hafiedz selaku pembimbing pun turut bangga dengan kemajuan teknologi yang tak luput memberikan peluang musisi jalanan dalam mengembangkan karyanya. Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan dapat merangkul banyak masyarakat dalam mengenal dan memanfaatkan layanan keuangan secara digital. Terdapat kurang lebih 80 musisi jalanan yang sudah menjadi anggota dari IMJ, dengan adanya kolaborasi ini, musisi jalanan dapat meningkatkan taraf kualitas kehidupan mereka.
Perjalanan yang begitu panjang telah mengantarkan raganya pada penghujung akhir 2019. Rintangan demi rintangan dihadapi, hasil yang manis tidak memberhentikan raganya untuk memulai sesuatu yang jauh lebih besar. Pada masa ini, ia mendukung sebuah campaign “Ambon City of Music”. Ia tak berhenti memperjuangkan keinginannya, ia melangkah, menikmati setiap proses yang berlangsung. Hingga bertepatan dengan hari Kota Dunia yang jatuh pada 31 Oktober, UNESCO menunjuk 66 pemukiman perkotaan yang masuk ke dalam Jaringan Kota Kreatif Dunia (Creative Cities Network) dan salah satunya ialah Kota Ambon, Maluku dengan kriteria Kota Musik Dunia UNESCO.
Ibarat kata City Of Music di Ambon itu epicentrum. Simbol untuk bicara Indonesia saat ini, Ambon dengan histories tentang musik yang begitu banyaknya bisa dijadikan oleh para musisi kita sebagai pusat bermusik disana. – Glenn Fredly.
Glenn Fredly juga mengusung Konferensi Musik Indonesia (KAMI) yang berkolaborasi dengan Ruma Beta Foundation, Dyandra Promosindo, dan Koalisi Seni. Program ini dibentuk dalam rangka memajukan ekosistem musik Indonesia, serta memfokuskan musik sebagai kekuatan ekonomi baru. Pada tahun 2018, program ini telah terlaksana di Ambon, Maluku. Dan pada masa ini KAMI diselenggarakan pada Gedung Budaya Sabilulungan, Bandung.
Setiap perjalanan akan ada tujuan akhir, setiap jiwa akan kembali pada-Nya. Ribuan detik yang terlewati, ratusan menit yang kian menemani, sebuah perjumpaan yang mengajari bahwa dunia terus bekerja. Glenn Fredly Deviano Latuihamallo, namanya akan terus abadi. Ia mengajari bahwa semua manusia memiliki peran yang saling berkesinambungan dan semua manusia saling kait mengait, semuanya memiliki rasa. Terlepas dari perbedaan masing-masing manusia, sukma akan selalu hidup dalam kesetaraan.
April 2020 Glenn Fredly tutup usia. Tak ada kata lain selain beribu ucapan terima kasih kepadanya, tak ada aksi lain selain bangga kepadanya, ia bersinar terang dalam angan dan sanubari para penggemar dan orang tersayang.
Meskipun jiwa dan raganya telah tiada, perjuangan, cinta, serta mimpi-mimpi indahnya terus mengudara.








