“THE MAGIC ISLAND”, INDAHNYA PULAU SUMBA ANUGRAH PESONA TANAH AIR INDONESIA

 

Jakarta, Bumientertainment.com — “The Magic Island” merupakan sebuah julukan untuk Tanah yang penuh keajaiban dan keindahan dari para penjelajah yang menyusuri langkahnya di Pulau Sumba. Menyuguhkan alam dan panorama yang indah dan terjaga kealamiannya menjadikan Pulau Sumba memiliki daya tarik tersendiri. Sejarahnya yang atraktif menjadi salah satu tujuan para penjelajah untuk meluaskan wawasan mereka mengenai Tanah Sumba ini.

Pulau yang memiliki luas wilayah 10.710 km² dengan titik tertingginya terletak pada Gunung Wanggameti (1.225 m) ini berbatasan dengan Sumbawa sebelah barat laut, Flores timur laut, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Sedari dulu Pulau Sumba sudah dikenal dengan banyaknya destinasi yang masing-masing diantaranya memiliki ciri khas tersendiri, menjadikan Pulau Sumba berperan sebagai kawasan Taman Bumi atau yang lebih dikenal dengan GeoPark Indonesia.

Salah satu destinasi yang memiliki potensi besar adalah Bukit Hiliwuku. Dalam sejarahnya, sekitar 60 tahun yang lalu Pulau Sumba terletak di sekitar Teluk Bone di selatan Pulau Sulawesi yang dahulu kala merupakan bagian dari Kepulauan Sumba. Kelahiran Bukit Hiliwuku membuat Pulau Sumba terus mengalami pergerakan akibat dampak dari escape tectonics hingga berlabuh pada posisinya saat ini. Semenjak itu, Bukit Hiliwuku telah menjadi pelengkap potensi geologi yang dimiliki oleh Pulau Sumba. Ciri khas yang dimiliki oleh Bukit Hiliwuku adalah warna rerumputan pada hamparan savananya yang dipengaruhi oleh alam, dikala musim kemarau tiba rerumputan pada Bukit Hiliwuku akan diselimuti oleh warna kuning cerah, dan akan terlihat hijau sejuk disaat musim penghujan telah tiba. Bukit Hiliwuku juga sangat terjaga kealamiannya, sehingga hewan-hewan ternak seperti kambing, kuda, dan sapi akan mudah ditemukan tengah perisa merumput.

Selain dijuluki “The Magic Island”, Pulau Sumba juga dijuluki sebagai Pulau Sandelwood. Potensi bukit yang ekstensif dengan paduan hamparan savana membentang luas menghiasi adimarga turut menjadi tempat singgah bagi kawanan kuda-kuda, sehingga kerap kali dijadikan destinasi alternatif para penjelajah yang ingin berkejaran dan bermain dengan para kawanan kuda atau sekedar memandangi mereka yang tengah merumput. Terlebih ketika musim kemarau tiba, savana hasil vegetasi khas Sumba akan mengering sehingga memancing lebih banyak kawanan kuda keluar hutan untuk merumput.

Tidak hanya hamparan savananya, pesisir pantai yang indah juga kerap menjadi destinasi pilihan bagi para penjelajah. Salah satu pantai yang terkenal memiliki karakteristik tersendiri adalah Pantai Walakiri. Berada tidak jauh dari pusat Kota Waingapu, sekitar 24 km dan dapat di tempuh kurang lebih 30 menit perjalanan. Keunikan pada pantai ini terletak pada lokasinya yang bersanding tidak jauh dengan hutan Mangrove, sehingga ketika air tengah mengalami penyurutan, keindahan pohon Mangrove dapat dinikmati dari jarak dekat. Indahnya pemandangan pada Pantai Walakiri juga menjadi ciri khas tersendiri, terlebih ketika masuk waktu petang hari, perpaduan antara warna langit senja dan siluet pohon Mangrove terekam dengan jelas.

Destinasi yang memiliki keunikan budaya dan sejarah juga menjadi target para penjelajah. Salah satu dari sekian banyak lokasi adalah Kampung Raja Prailiu. Tempat ini merupakan sebuah Ibukota kerajaan Lewa Kambera yang berlokasi di sebelah Timur Kota Waingapu. Keunikan sejarahnya menjadikan tempat ini menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah cerita ketika wafatnya raja terakhir bernama Umbu Ndjaka pada tahun 2008 silam, dan belum ada pengangkatan untuk raja baru setelahnya hingga saat ini. Warga setempat memiliki kiasan dalam bahasa adat mereka yang seringkali diucapkan untuk menggambarkan seorang raja yang telah wafat. Yaitu:

Ana weya rara ana karawulang : “Anak buaya merah dan anak penyu.”

Ana wulang ana lalu : “Matahari dan anak bulan.”

Ana manu ina rendi : “Bapaknya ayam dan anaknya bebek.”

Ketiga ungkapan diatas adalah sebuah lambang-lambang sifat raja yang mengayomi. Lambang-lambang tersebut disematkan pada makam raja Tamu Umbu Ndjaka melalui ornamen buaya, penyu, rusa, ayam dan bebek. Serta-merta batu yang memiliki ukiran unik yang disebut penji patung manusia berkuda.

Pulau Sumba akan selalu menjadi destinasi domestik yang memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, budaya yang otentik terjaga dengan baik dari masa ke masa. Keindahan alamnya dengan baik dilestarikan melalui vegetasi khas Sumba. Melalui tangan masyarakat lokal yang senantiasa selalu menjaga, Pulau Sumba masih sangat direkomendasikan untuk di jelajahi ditahun ini dan tahun-tahun selanjutnya. Daya jelajah yang sangat luas dengan ciri khas masing-masing destinasi, akan memberikan pengalaman yang berbeda. Menjelajah alam Sumba, “The Magic Island” anugrah pesona Tanah Air, Indonesia