ROMANSA PESONA SUMBA

Jakarta, Bumientertainment.com — Indonesia adalah negara dengan kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari 17.504 jumlah pulau yang membentang luas dari Sabang sampai Marauke. Tanah Air ini juga dikenal sebagai negara maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93.000 km² dan panjang pantai kurang lebih 81.000 km² atau hampir 25% luas pantai di dunia.

Mengimplikasikan keindahan sebuah bentala yang juga bagian dari Tanah Air. Single “Romansa Ke Masa Depan” karya terbaru dari Glenn Fredly akan mengutip keindahan Pulau Sumba yang akan dikemas menjadi sebuah jalan cerita. Cerita yang bertajuk “Romansa Pesona Sumba” akan mengusung tema back to the future 80’s, berkisah tentang perjalanan panjang yang ditempuh untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Single “Romansa Ke Masa Depan” merupakan sebuah karya terbaru dari Glenn Fredly yang terinspirasi dari keluarga baru dihidupnya, kehidupan baru yang penuh kejutan di masa yang akan datang.

Pulau Sumba yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Telah dikenal dunia dengan keindahan panoramanya, mulai dari pesisir laut biru dengan hamparan pasir putih yang lembut hingga savana yang membentang luas. Kealamiannya yang masih terjaga dengan baik serta budaya yang otentik menjadi daya tarik tersendiri pada pulau ini.

Ada beberapa lokasi yang akan menjadi bagian dari momen perjalanan Romansa untuk single “Romansa Ke Masa Depan”, sebelum pada akhirnya Glenn Fredly tiba pada titik kunjungan terakhir, yaitu masa depan yang lebih baik.

 

 

  1. PANTAI PURU KAMBERA

 

Hamparan pasir putih yang sangat halus beserta laut berwarna biru menjadi ciri khas Pantai Puru Kambera. Terletak di Desa Mondu, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pantai Puru Kambera terletak 25 km dari pusat Kota Waingapu, disepanjang tepi Pantai Puru Kambera membentang luas hamparan pohon cemara yang hijau nan rindang. Dalam perjalanan menuju Pantai Puru Kambera, akan terlihat padang savana yang luas dan kerap dijadikan sebagai destinasi alternatif bagi para wisatawan yang hendak mengeksplorasi keindahan alam Sumba Timur. Destinasi alternatif ini seringkali menjadi lokasi utama bagi wisatawan yang ingin melihat aksi kawanan kuda-kuda yang tengah merumput. Kuda-kuda ini akan lebih sering terlihat ketika musim kemarau telah tiba, hal ini dikarenakan padang savana Puru Kambera akan sangat kering hingga menarik perhatian kawanan kuda-kuda ini keluar hutan untuk mencari makan di padang savana Puru Kambera.

Selain dapat bermain dengan kawanan kuda, panorama yang diberikan padang savana Puru Kambera tidak kalah indah dengan pantainya. Dimusim kemarau padang savana ini akan berwarna kuning, dengan kawanan kuda yang berkumpul menghidupi suasana padang tersebut. Jikalau masuk musim penghujan, padang savana Puru Kamera akan nampak berwarna hijau yang sangat kontras dengan birunya warna langit yang menyelimuti.

 

 

  1. KAMPUNG RAJA PRAILIU

 

 

Pesona Kampung Raja Prailiu, Sumba Timur. Tempat ini merupakan sebuah ibukota kerajaan Lewa Kambera yang berlokasi di sebelah Timur Kota Waingapu. Kampung Raja Prailiu menyimpan banyak sejarah yang dapat dieksplorasi, salah satunya adalah wafatnya raja terakhir bernama Umbu Ndjaka pada tahun 2008 silam, dan belum ada pengangkatan untuk raja baru setelahnya hingga saat ini. Terdapat sebuah kiasan dalam bahasa adat mereka yang seringkali diungkapkan untuk menggambarkan seorang raja yang telah wafat.

 

Ana weya rara ana karawulang : “Anak buaya merah dan anak penyu.”

Ana wulang ana lalu : “Matahari dan anak bulan.”

Ana manu ina rendi : “Bapaknya ayam dan anaknya bebek.”

 

Ketiga ungkapan diatas adalah sebuah lambang-lambang sifat raja yang mengayomi. Lambang-lambang tersebut disematkan pada makam raja Tamu Umbu Ndjaka melalui ornamen buaya, penyu, rusa, ayam dan bebek. Serta-merta batu yang memiliki ukiran unik yang disebut penji patung manusia berkuda.

 

Jejak-jejak kerajaan di Kampung Raja Prailiu beserta budayanya yang masih sangat otentik menjadikan lokasi ini memiliki karakteristik tersendiri untuk di jelajahi. Beberapa diantaranya adalah kain tenun yang mereka kenakan saat berlangsungnya sebuah acara esensial. Seperti upacara spiritual, proses perkawinan sebagai mahar, dan juga kematian.

 

Masyarakat yang berada di Kampung Raja Prailiu ini menganut kepercayaan Marapu. Yaitu, sebuah kepercayaan masyakarat lokal Tanah Sumba tentang kehidupan di dunia ini hanyalah sementara dan setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal di dunia Roh, yakni di Surga Marapu yang dikenal sebagai Prai Marapu. Dan dalam tradisi Marapu, kain-kain yang mereka kenakan untuk acara esensial tersebut memiliki benang yang berwarna alami. Seperti warna biru dari daun nila, dan merah dari ekstrak akar mengkudu.

 

Rumah masyarakat Kampung Raja Prailiu juga masih berupa hunian adat, dengan atap berbentuk limas dari material alami. Sejumlah benda-benda lawas yang terdapat disana masih terabadikan dengan baik.

 

 

 

  1. BUKIT MERDEKA

 

Bukit Merdeka, salah satu bukit yang berselimut savana terlukis memberikan kesan yang berbeda. Berlokasi di Desa Moubokul, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Sekitar 68 km dari pusat kota Waingapu.

Bukit Merdeka tidak banyak diketahui oleh wisatawan, dikarenakan lokasi yang cukup jauh dan jalur jalan yang berliku. Meski demikian Bukit Merdeka menghadirkan suasana berbeda untuk menikmati keindahan padang savana. Bukit ini lebih landai dari bukit lainnya yang tersedia di Tanah Sumba, sehingga memudahkan langkah kaki untuk mendaki. Akan terekam jelas bebatuan yang cukup besar seperjalan menuju puncak Bukit Merdeka.

Akses jalan yang cukup rumit seringkali mengharuskan wisatawan untuk sebaiknya menyewa kendaraan yang tersedia. Dengan ditunjang driver professional memudahkan wisatawan untuk segera tiba dan menikmati keindahan Bukit ini.

Ciri khas dari Bukit Merdeka adalah pada corak bidang Bukit yang terlihat seperti barisan pola garis abstrak yang menyelimuti sisi-sisi Bukit tersebut. Meski tidak sepenuhnya, warna corak garis pada Bukit Merdeka dipengaruhi oleh musim. Dikala musim penghujan tiba, Bukit Merdeka akan menyuguhkan warna rerumputan hijau segar dengan garis-garis yang juga berwarna hijau. Sementara dimusim kemarau, Bukit Merdeka akan berubah menjadi warna kuning kecoklatan dengan corak garis berwarna coklat.

 

 

  1. BUKIT HILIWUKU

 

 

Bukit Hiliwuku berlokasi di Desa Katiku Luku, Matawai La Pawu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

 

Sebuah bukit yang indah dan kerap disebut menyimpan warisan bumi Tanah Sumba. Masuk ke dalam urutan belasan bukit kosong yang akan menguning dikala musim kemarau dan tampak hijau sejuk disaat musim penghujan tiba membasahi bentala Bukit Hiliwuku.

 

Kelahiran Bukit Hiliwuku telah melengkapi beragam potensi Tanah Sumba sebagai syarat untuk dapat menjadi kawasan taman bumi atau yang lebih dikenal dengan GeoPark Indonesia. Bukit Hiliwiku sangatlah terjaga kealamiannya, sehingga pemandangan berupa hewan-hewan ternak seperti kambing, kuda, dan sapi yang tengah perisa menikmati rerumputan hijau menjadi suguhan panorama yang menarik ketika berpadu dengan hamparan savana yang luas.

 

Ciri khas dari Bukit Hiliwuku adalah punggung bukitnya yang relatif datar dan saling sambung menyambung, sehingga akses jalan menuju puncak Bukit Hiliwuku ada pada punggung bukit tersebut, bukan pada lembah seperti bukit-bukit pada umumnya. Dari atas Bukit Hiliwuku akan tersaji sebuah pemandangan dan suasana yang indah, dan apabila masuk waktu petang hari, keindahan matahari yang terbenam menyatu dengan hamparan luasnya savana menjadi alasan utama wisatawan untuk berkunjung.

 

Selain keindahan yang disuguhkan oleh Bukit Hiliwuku, lokasi ini juga memiliki sejarah sendiri. Sekitar 60 tahun yang lalu, Pulau Sumba terletak di sekitar Teluk Bone di selatan Pulau Sulawesi yang dahulu kala merupakan bagian dari Kepulauan Sumba. Pulau Sumba terus bergerak menuju selatan akibat dampak dari escape tectonics hingga pada akhirnya berada di posisinya saat ini. Dan semenjak saat itu, Bukit Hiliwuku telah menjadi pelengkap potensi geologi yang dimiliki oleh Sumba.

 

 

 

  1. PANTAI WALAKIRI

 

 

Berada tidak jauh dari pusat Kota Waingapu, sekitar 24 km dan dapat ditempuh kurang lebih 30 menit perjalanan. Akses menuju Pantai Walakiri tidaklah sulit, berada tidak jauh dari jalan raya menuju arah Melolo, sebuah kecamatan yang cukup besar di Sumba Timur. Pantai Walakiri memiliki beberapa keunikan tersendiri, salah satunya adalah letak pantai yang bersanding tidak jauh dengan hutan Mangrove. Sehingga ketika air tengah surut, keindahan pohon Mangrove dapat dinikmati dari jarak dekat. Pemandangan yang disuguhkan oleh Pantai Walakiri juga sangat indah, terlebih ketika masuk waktu petang hari, perpaduan antara warna langit senja dan siluet pohon Mangrove tergambar sangat jelas.

 

Setiap perjalanan selalu memiliki batas akhir, perjalanan yang panjang ditempuh dengan semangat romansa telah tiba pada perjumpaan yang dinantikan. Awal dari segala awal menuju masa depan yang lebih baik.

Memiliki keluarga baru, menjadi semangat baru juga untuk Glenn Fredly meneruskan kecintaannya pada dunia musik dengan terus melahirkan cerita lewat berkarya. Cerita “Romansa Pesona Sumba” akan release dan diabadikan di kanal YouTube Glenn Fredly.