Glenn Fredly telah menuangkan berbagai kreativitasnya dalam dunia musik yang telah ia geluti selama 20 tahun. Profesi ini pun membuka kesempatan bagi Glenn untuk bertemu dengan orang-orang yang berada di luar profesinya dan juga mengenal media lain untuk dijadikan tempat menuangkan gagasannya, seperti yang ia temukan dalam media film. Bagi Glenn, film sama halnya dengan musik yang bisa dijadikan tempat untuk membawa perubahan ataupun membangun pola pikir bagi para penontonnya.

“Saya tertarik ketika film bisa menjadi sebuah medium yang sangat lebar, bisa menyampaikan gagasan itu sendiri. Apalagi saat film dan musik itu sesuatu yang nggak bisa dipisahin sebenarnya. Jadi, pada saat saya ketemu dengan Angga (Dwimas Sasongko), ini jadi mimpi, achievement ke depan. Pencapaian ke depan bagaimana musik dengan film bisa berjalan membangun sebuah industri yang kuat seperti negara-negara yang sudah mapan industri musiknya. Kita selalu berharap apa yang kita kerjakan kita bisa jadi pionir,” jelas Glenn saat ditemui di kantor Visinema Pictures pada awal bulan ini.

Pertemuannya dengan Angga Dwimas Sasongko terbukti berhasil, karena pada akhirnya menghasilkan film Cahaya dari Timur: Beta Maluku yang meraih gelar Film Terbaik FFI, serta film Filosofi Kopi. Lalu bagaimana Angga di mata Glenn? “Orang gila sih dia,” ucapnya sambil tersenyum.

“Menyenangkan kerja dengan orang-orang seperti Angga yang punya karakter yang sangat kuat, dalam arti orangnya sangat impulsif, tapi selalu ide-ide segar, liar datang dari dia. Sehingga itu men-challenge saya juga. Saya seneng berkerja dengan orang-orang yang nggak mikirin comfort zone dalam berkarya untuk mengeksplor ruang-ruang baru. Harapannya kita bisa menghasilkan karya yang lain lagi, seperti Surat dari Praha dan beberapa plan yang akan kita kerjakan ke depannya dalam Tinggikan Production, seperti yang Angga bilang, tempat untuk kita berjihad,” paparnya, seraya tertawa.

Tinggikan Production merupakan tempat Glenn untuk bisa mempertemukan sisi komersial dan idealis. Pasalnya, kedua hal itu penting baginya agar bisa menghasilkan sebuah karya yang tak hanya mementingkan sisi berjualan saja, tapi juga tetap mengedepankan hal-hal sensitif yang ingin dituangkan.

“Ibaratnya Visinema ini kayak rumah besar untuk film-film yang punya nilai komesial, which is di Tinggikan Production juga sama kita memikirkan juga hal how to sell, tapi untuk mengolah hal-hal yang sensitif, ‘berat’, kita tuanginnya di sini, di Tinggikan Production. Bahasanya kayak filantrofi gitu ya, tapi ini ke film,” papar Glenn.

Glenn juga mengatakan bahwa Tinggikan Production akan membawa semangat yang diusung oleh film Cahaya dari Timur: Beta Maluku. Selain Surat dari Praha,Tinggikan Production juga akan memproduksi sekuel Cahaya dari Timur: Beta Maluku, yakni Cahaya dari Timur: Mama Aleta yang dijawalkan untuk diproduksi pada tahun 2017.

“Saya ngerasa ini bisa jadi cerita apa pun, spirit-nya akan berbicara ke situ, makanya apa pun yang berhubungan dengan rekonsiliasi sosial. Karena awalnya berasal dari inspirasi Cahaya dari Timur: Beta Maluku itu berangkat dari semangat rekonsiliasi sosial itu. Jadi ya kita bawa ke dalam Tinggikan Production semangatnya,” tutupnya.

(Lusi Triana / Foto: Ivan Marlianto – muvila.com, 21 Januari 2016)